Ada dua kabar berbeda yang lahir dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Kabar tersebut datang dari Tyrese Gibson, salah satu aktor di film 'Fast & Furious' dan Lukman Sardi, aktor utama pemeran KH. Ahmad Dahlan di fim 'Sang Pencerah'. Persamaannya, keduanya sama-sama aktor film. Bedanya, yang satu masuk Islam, yang satu keluar dari Islam. Agama adalah pilihan dan negara menjamin kebebasan beragama. Artikel kali ini tidak ditulis untuk menghujat dan menyudutkan, namun lebih ditekankan pada aspek informatif sebagai opini subjektif Daeng Situju.

Tidak ada yang salah dengan keduanya. Agama itu masalah keyakinan dan kebenaran; yakni bagaimana kita menemukan, menganalisa, dan meyakini kebenaran dengan menggunakan alat-alat yang dititipkan oleh sang pencipta kepada kita; yaitu dengan logika dan dengan hati. Agama 'A' menjadi benar secara subjektif ketika kita meyakini agama itulah yang benar. Yang salah adalah memeluk agama yang tidak diyakini kebenarannya secara logis dan hati. Oleh sebab itu, kita senantiasa diingatkan untuk berupaya menjadi orang yang berilmu. Bukankah agama itu untuk orang yang berakal? Mohon maaf jika pendapat ini agak ekstrim dan mungkin jadi salah menurut Anda. Setidaknya, ini merupakan kebenaran subjektif dari perspektif penulis.

Tyrese Gibson, aktor kawakan yang telah membintangi banyak film diketahui telah menjadi muallaf. Berdasarkan beberapa artikel yang beredar, ia memutuskan memeluk Islam setelah merasakan kekosongan atas berpulangnya sang sahabat, Paul Walker, dalam insiden kecelakan mobil. Berpulangnya sang sahabat membuat Tyrese Gibson berpikir tentang esensi hidup dan kehidupan yang sebenarnya. Pada akhir pencariannya, ia menemukan Islam sebagai landasan yang sangat logis yang mampu menjawab segala kemelut yang ia rasakan. Ia tercerahkan.

Kabar lainnya datang dari Lukman Sardi, pemeran K.H. Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah yang bisa dikatakan booming pada waktu penayangannya. Lukman Sardi memutuskan untuk murtad (istilah ini dikenakan kepada orang yang keluar dari Islam; bukan ejekan). Kabarnya, ia keluar dari Islam tanpa paksaan. Ia menemukan kebenaran subjektifnya pada agama yang dipeluknya setelah keluar dari Islam; ia juga tercerahkan. Pencarian kebenaran atas dasar logika dan hatinya berlabuh pada agama yang benar menurut ia secara subjektif.

0 komentar:

Posting Komentar